Siomay Legit Praktis a La Chef Widya

Hai, lama banget nggak nulis di sini, abisnya nggak ada yang baca sih. 😦 #ahlasan

Kali ini, aku nggak akan nulis kalimat sendu mengharu biru kayak jaman muda dulu, melainkan mau share resep! RESEP BIKIN SIOMAY. Hahaha, berfaedah sekali bukan? Jadi, selama ini aku kira bikin siomay itu susah, ternyata emang susah lumayan gampang. Makanya aku pengin temen-temen bisa cobain juga di rumah.

Yaudah lah, langsung aja, here’s the recipe:

BUMBU:

-1 butir bawang bombay.

-5 siung bawang putih.

-3 batang daun bawang, iris tipis-tipis.

-1 sdm minyak goreng, gula putih, kecap.

-1 sdt merica, garam.

-1 bks penyedap rasa ayam.

BAHAN:

-1 kg dada ayam (fillet), cincang kasar.

-1/2 kg tepung sagu.

-2 butir putih telur.

-Kulit pangsit (beli jadi aja lah, di supermarket juga ada. Kita kan masak yang gampang, bukan lagi masterchef).

CARA MEMBUAT:

1) Blender bawang bombay, bawang putih, setelah halus masukkan daging ayam yang telah dicincang kasar (kasih air ya, biar mau gerak pisau blendernya).

2) Setelah halus tuangkan ke dalam baskom, masukkan putih telur, aduk-aduk.

3) Masukkan bumbu-bumbu, aduk sampai rata.

4) Masukkan tepung sagu sedikit-sedikit sambil diaduk terus, sampai habis/secukupnya (adonannya jangan sampai terlalu keras).

5) Tuang irisan daun bawang ke dalam adonan, aduk lagi (tsaelah mbak, ngaduk mulu, untung adonan yang diaduk, bukan perasaan).

5) Ambil adonan 1 sendok, bungkus dengan kulit pangsit, kukus sampai matang.

6) Setelah matang, sajikan dengan Sambal Bangkok Indofood (lah nyebut merk. *minta royalti*)

Catatan:

Kalau pengin rasa tambah kuat (tapi jangan terlalu kuat, nanti susah moveon), bisa ditambah udang kupas 1 ons, kecapnya pakai kecap asin

Well, gimana, gampang kan? SELAMAT MENYOMAY. \(´▽`)/  Siomay Legit

Advertisements

Tolong, Percayalah Kalau Aku Kuat

Iit Sibarani | Akar Pikiran

-zAg3Guc

: untuk mereka yang menyayangiku,

Kita itu memang kuat, sayang. Berada di kondisi sulit bukan berarti kita lemah. Namanya belajar tidak bisa selalu langsung mengerti, langsung pinter. Namanya membiasakan diri, tidak bisa langsung nyaman, semuanya ada prosesnya, yang harus kita jalanin, mau atau tidak mau, kecuali kalau kita pengen jalan di tempat.

Sayang, kita tak sekali dua kali kan ngalamin masa sulit? Susah kan? Sakit sana sini. Tapi lihat, kita sekarang di sini.  Artinya apa? Artinya kita bisa lewatin kesulitan itu satu demi satu.

Underestimate sama diri itu sendiri itu kesalahan besar, sayang. Kalau kita menganggap kita lemah, tidak mampu, ya selamanya akan seperti itu. Aku tak pernah menutupi apapun dari kalian, sayang. Kalian orang-orang terdekat aku.  Aku sayang banget sama kalian. Cuma kadang aku diam, bukan tidak mau berbagi, tapi mengeluh cuma bikin aku merasa jatuh. Tapi ada saatnya juga aku pengen berbagi, ya bukan sama siapa-siapa lagi, tapi…

View original post 174 more words

Ibu, Mengapa Aku…

“Ibu, kenapa anakmu ini begitu mudah kecewa?”

“Mungkin pengharapan kamu pada orang-orang di sekeliling kamu terlalu besar, anakku, sehingga saat kenyataan tidak memenuhi harapanmu, tentu saja yang timbul adalah rasa kecewa…”

“Tapi aku tak pernah berharap apapun pada mereka, ibu, sungguh.. Aku selalu berusaha menyayangi mereka, dan ingin menyenangkan mereka selalu, bu..”

“Begini, anakku, pada saat kita menyayangi seseorang, baik itu kekasih, sahabat, atau siapapun, tentu ada harapan -meskipun cuma sedikit -agar mereka bisa menyayangi kita seperti kita menyayangi mereka, begitu pula ketika kamu ingin membuat mereka senang, tentu kamu pun ingin diperlakukan demikian bukan?”

“Apakah itu salah, ibu? Bukankah begitu seharusnya manusia hidup dan berinteraksi?”

“Tentu itu hal yang wajar, oleh karena itu, ibu berpesan padamu, kecilkan pengharapanmu pada mereka. Lalu, sayangi mereka semampumu, setulus yang kamu bisa, tak perlu berusaha terlalu keras untuk membahagiakan mereka, mereka pun tentu mengerti, kamu punya batas kemampuan. Dengan begitu, kamu tidak akan lagi mudah merasa kecewa dan sakit hati pada mereka, anakku..”

“Lalu kenapa aku bisa begitu mudah percaya dan terbuka, sedangkan tidak semua dari mereka mau terbuka padaku, bu? Apa aku terlihat tidak bisa dipercaya? Ataukah di mata mereka aku bukan teman bercerita yang baik, bu? Atau cuma aku yang menganggap mereka istimewa, tapi mereka menganggap aku bukan siapa-siapa? Aku sedih sekali, bu.. ”

“Sayangku, buah hatiku, itulah yang paling berpotensi melukai perasaanmu. Semua prasangka yang kau tumbuhkan di kepalamu akan membuatmu menjadi perempuan yang gemar melukai diri sendiri. Berhentilah menjadi masokis, nak, hilangkan prasangka, maafkan dirimu sendiri, untuk semua kesalahanmu yang mungkin tak termaafkan, lalu maafkan semua yang menyakitimu..”

“Lantas, ibu, kenapa jika aku terluka, lukanya begitu sulit untuk sembuh, sedangkan mereka bilang, waktu akan menyembuhkan lukaku? Apakah mereka bohong, ibu?”

“Anak manis, belajarlah untuk menyembuhkan lukamu sendiri, jangan membiasakan diri jadi pemelihara luka, luka itu untuk diobati, bukan untuk kamu simpan dan kamu genggam erat-erat.. Sembuhkan perlahan, waktu adalah teman paling setia yang akan menemanimu sembuh, nak..”

“Baiklah, bu, terima kasih karena ibu telah membukakan mata hatiku, bu, aku berjanji akan belajar menjadi apa yang ibu katakan padaku, satu lagi, bu, apakah dulu ibu sepertiku?”

“Ah, tidak seharusnya kamu tanyakan itu pada ibu, nak. Dulu ibu sama persis sepertimu, bahkan mungkin lebih dari itu. Makanya, ibu terus belajar, ibu terus berusaha, waktu begitu setia mendampingi ibu sampai akhirnya ibu bisa mengerti bagaimana seharusnya menjalani hidup. Ibu mengatakan semua ini padamu semata-semata karena ibu tau bagaimana rasanya, dan ibu tidak ingin kamu merasakan hal yang dulu ibu rasakan, nak.. Tumbuhlah dewasa, nak, jadilah perempuan yang tegar. Ibu menyayangimu..”

(20.45, 05 Januari 2030)

Masih Untuk Kamu, yang Selalu Memeluk Hatiku

Teruntuk pemilik hati yang tak pernah merasa pegal untuk kujadikan sandaran,

Sayang, rupanya kita telah menempuh perjalanan yang begitu jauh, jalan yang kita tapaki pun rasanya semakin terjal saja, tidak seperti saat pertama kita memulai perjalanan ini. Aku lihat telapak kakimu tampak terluka di sana-sini akibat batu-batu yang sepertinya iri pada langkahmu yang begitu pasti, begitu pula kakiku. Terlintas tanya di pikiranku, mampukah kita melanjutkan perjalanan ini, sayang, atau kita hentikan saja perjalanan kita, dan menunggu bantuan yang bisa mengantar kita pulang? Kuhalau pertanyaan itu dari pikiranku sebisaku, aku tak ingin pertanyaanku melukai perasaanmu.

 

Ah, ternyata kamu terlalu memahamiku, sampai-sampai tak ada yang bisa ku sembunyikan darimu. “Apa kamu sudah terlalu lelah untuk berjalan, sayang? atau mungkin, kamu sudah tidak menginginkan perjalanan ini lagi? Tanyamu sambil menatapku dengan tatapan teduhmu. “Jika kamu masih menginginkanku untuk tetap menggenggam tanganmu, memapahmu sampai di akhir perjalanan kita, atau meminjamkan bahuku untuk kau jadikan sandaran saat kamu ingin beristirahat, aku akan selalu dengan senang hati melakukan itu, Kamu tahu, mimpi terbesarku hanyalah membahagiakanmu, sayang, mengantarmu ke tempat di mana kita bisa menghabiskan masa tua bersama-sama. Tapi, jika perjalanan ini memberatkanmu, pulanglah. Ijinkan aku menemanimu sampai ada seseorang yang pantas, yang bisa mengantarmu pulang, karena aku tidak mungkin membiarkanmu pulang seorang diri, sedangkan untuk pulang bersamamu, aku masih belum punya apa-apa untuk aku bawa ke hadapan orang tuamu. Jika yang kita nanti telah datang, aku akan dengan ikhlas melepasmu pulang, setelah itu aku akan melanjutkan perjalanan berbekal berbagai kenangan manis dari awal perjalanan hingga sampai di titik ini. Percayalah, ini bukan karena rasa cintaku yang tak cukup besar untuk memaksamu melanjutkan perjalanan ini, tapi karena aku menyadari, kamu pantas menikmati perjalanan yang jauh lebih nyaman dari ini, sebuah perjalanan nyaman yang belum bisa aku berikan padamu. Sedemikian besarnya cintaku padamu, sampai-sampai aku tidak tega melihatmu terluka dan kelelahan seperti ini. Kamu mengerti, sayang?”

Uraian panjang yang menciptakan air terjun di mataku itu tidak pernah aku duga akan keluar dari mulutmu, mulut yang selama ini selalu menjejaliku dengan keyakinan bahwa ujung perjalanan ini adalah kebahagaian tak berbatas yang hanya bisa habis oleh maut. “Apakah itu tandanya kamu menyerah, sayang?” Ujarku yang terlalu bebal untuk bisa menerima dan mencerna pernyataanmu.

 

Aku terdiam, tetiba sibuk dengan berbagai hal yang mendadak muncul di kepalaku. 

Mungkin, jika tidak denganmu, aku tidak perlu menempuh perjalanan penuh peluh dan mencipta luka di sana-sini…

Mungkin, jika tidak denganmu, aku sudah duduk manis bersama putra-putri kecilku…

Mungkin, jika tidak denganmu, aku tidak perlu sepayah ini memperjuangkanmu di hadapan orang tuaku…

 

Tapi,

Jika tidak denganmu, apa yang bisa aku lakukan di pagi hari, karena selama hampir seperempat dari usiaku, aku selalu menghabiskan pagiku bersamamu…

Jika tidak denganmu, siapa yang mampu mengusap dan menepuk-nepukku sampai aku terlelap, jika obat tidur yang paling hebat sekalipun kalah oleh usapan menenangkanmu…

Jika tidak denganmu, siapa yang bisa membuatku bisa tertawa dengan airmata berderai, seperti yang biasa kamu lakukan setiap kali aku menangis…

Jika tidak denganmu, apa yang bisa aku ceritakan pada anak-anakku, jika semua sumber ceritaku berasal dari dirimu…

Jika tidak denganmu, siapa yang bisa membuatku kembali terlelap dengan cepat, saat mimpi buruk mengganggu tidurku…

Jika tidak denganmu, bagaimana aku bisa tertawa dan membuat orang lain tertawa, jika mesin tertawaku kendalinya ada padamu…

Jika tidak denganmu, di mana lagi aku bisa menemukan tatapan seteduh tatapanmu, genggaman sehangat genggamanmu, belaian selembut  belaianmu, pelukan senyaman pelukanmu…

 I’ve never planned growing old without you, 

 

Lihatlah sayang, membayangkannya pun aku tak berani. Sekuat itu aku mengikatkan diriku padamu, sebesar itu juga aku melibatkanmu di setiap langkah hidupku. Dengan semua keterbatasanmu, dengan segala yang tidak kamu punya, aku tidak pernah merasa kekurangan, aku pun tidak pernah merasa kehabisan alasan untuk bahagia.

Aku tahu, perjalanan ini memang cukup melelahkan, tapi genggaman tanganmu selalu bisa menguatkanku.

Aku sadar, langkah kakiku semakin terseok-terseok, namun aku tak pernah terjatuh, karena rengkuhan lenganmu selalu berhasil menahanku untuk tetap berdiri dan melangkah,

Aku yakin, perjalanan ini bisa kembali kita lanjutkan, karena langkah tegapmu selalu menguatkan dan memompa semangatku untuk melangkah dan terus melangkah…

Aku percaya, Tuhan tahu bahwa kita pantas bahagia…

 

Aku hanya ingin membagi tawa dan tangisku kepadamu, menghasilkan dan membesarkan anak-anakku bersamamu, menghabiskan masa tuaku di sisimu, mengabdikan semua baktiku untuk dirimu, menghembuskan napas terakhirku di pelukanmu.

 

Kamu dengar itu sayang, masih adakah keinginan untuk melepaskanku pulang bersama orang lain?

 

 

====Sepasang hati tidak mungkin menyerah dan kalah hanya karena jarak dan waktu, yang tidak lebih mulia daripada hati, ciptaan Tuhan yang paling mulia====

.me against the world.

Happiness in a tablet. This is our world. Prozac. Paxil. Xanax. Billions are spent to advertise such drugs. And billions more are spent purchasing them. You don’t even need a specific trauma; just “general depression” or “anxiety”, as if sadness were as treatable as the common cold.

I know depression was real, and in many cases required medical attention. I also knew we overused the word. Much of what we called “depression” was really dissatisfaction, a result of setting a bar impossibly high or expecting treasures that we weren’t willing to work for. I knew people whose unbearable source of misery was their weight, their baldness, their lack of advancement in a workplace or their inability to find the perfect mate, even if they themselves did not behave like one. To these people, unhappiness was a condition, an intolerable state of affairs. If pills could help, pills were taken.

View original post

Belum Ada Judul

“Pernah kita sama sama susah
Terperangkap di dingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah
Lelah”
(Iwan Fals – Belum Ada Judul)

Berkali-kali saya nyaris dibuat menitikkan air mata gara-gara mendengar lagu ini, entah karena saya terlalu menyukai lagu ini, atau sedang dalam kondisi mengharu-biru, atau mungkin, karena saya merindukan seseorang. Ah, akhirnya saya mengakuinya juga. Rasa yang berusaha saya redam dan saya abaikan, ternyata malah semakin mendesak ingin diperhatikan. Baiklah, iya, saya rindu.. Apakah masih diperbolehkan? Rindu yang saya alamatkan pada seseorang yang pernah saya anggap sahabat. Masih. Sampai sekarang saya masih menganggapnya sahabat, hanya saja, dengan keadaan yang sudah tak bisa lagi sama seperti kemarin.

Sejujurnya, saya benci mengatakan ini, saya pun tak kalah benci merasakan ini. Begini, tentu saja semua manusia normal di muka bumi ini memiliki yang namanya sahabat, orang lain (diluar kekasih) yang bisa diajak bercerita, dan berbagi dalam kondisi apapun. Itu dalam kondisi normal, sekarang jika saya kondisikan begini, saya begitu menyayangi dia yang saya sebut sahabat itu, namun yang bisa saya lakukan hanya merindu, menunggu hingga keadaan bisa kembali seperti dahulu.

Seperti dahulu yang bagaimana? Sebelum saya lanjutkan, saya hanya berharap semoga yang terjadi pada saya tidak pernah terjadi pada siapapun, atau, semua yang memiliki sahabat, tidak memiliki rasa sayang yang terlalu besar, sebesar saya menyayangi sahabat saya ini, karena yang akan terjadi jika dia pergi adalah, sakit yang tidak lagi bisa dijelaskan dengan kata-kata, intinya, sakit. Saya tidak menyalahkan siapapun atas sakit yang ada sekarang, karena mungkinini murni salah hati saya yang selalu dan terlalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu , iya, ini salah saya.

Sejauh mana sakit dan rindu ini menguasai saya?

Saya benci ketika setiap tempat yang saya lewati, sesuatu yang saya baca, apapun yang saya temui, membuat kepala saya memutar satu persatu rekaman masa-masa manis ketika kami (saya, pacar saya, dan dia) masih sering pergi bersama. Sudah tidak terhitung lagi cerita manis yang pernah kita lalui, saya pun malas menghitungnya, karena setiap rekaman yang muncul selalu berujung dengan goresan tajam di ulu hati saya.

Saya benci ketika saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa saya tidak sedang ingin mengingat apapun tentang dia, tapi nyatanya, itu hanya membuat bayang-bayangnya menguat di pikiran saya.

Saya benci memiliki keyakinan bahwa dia akan kembali, seperti yang sudah-sudah, dengan mengabaikan sakit yang terus menerus menguat setiap harinya. Berapa kalipun dia datang dan pergi, tangan saya selalu terbuka lebar untuk menerima kedatangannya kembali. Siap bersahabat lagi, siap sakit lagi.

Seberapa berarti dia untuk saya? Lantas apa penyebab munculnya sakit yang demikian besar itu?

Saya bukan jenis orang yang mudah melupakan kebaikan seseorang, siapapun itu, saya mengakui, begitu banyak kebaikan yang saya terima selama saya bersahabat dengannya, dia begitu baik, walau kadang menyebalkan. Saya pernah berkata padanya, “you are an angel and a demon at the same time”. Dia adalah teman bicara yang menyenangkan, teman berbagi yang membuat kita tak pernah kehabisan topik untuk dibahas, sahabat yang begitu perhatian, walau kadang perhatiannya menyebalkan. Dia pun partner in crime saya dalam hal apapun. Namun, sayang, dia memutuskan untuk tidak lagi menjadi sahabat saya, tanpa ada alasan pasti yang bisa membuat saya dapat menerima kepergiannya. Dan dia pergi di saat saya sedang sibuk menata kehidupan saya, beberapa bagian kehidupan yang berantakan, dan ada andil dia di dalamnya.

Mungkin itu penyebab sakit yang utama.

Namun, biar bagaimanapun, saya tidak menyesal memiliki sahabat seperti dia, dia memberi banyak warna dalam hidup saya. Banyak memberikan pelajaran berharga, banyak hal positif yang bisa saya petik selama saya bersahabat dengannya. Iya, Alloh mendatangkan manusia ke dalam hidup kita -siapapun itu- pasti dengan alasan, tak mungkin ada yang sia-sia, begitupun dia, dan semua kejadian luar biasa yang terjadi di hidup saya. Cheers.